Sajak : "Burung yang Tak Bersayap"
oleh Udho Hendra pada 08 Maret 2011 jam 6:30
kepak-kepakmu serta-merta patah
tiba-tiba bergugur menerpa ilalang yang usang dan pirang
kauhendak terbang, selalu berikhtiar meski terhentak
kauingin menggapai setinggi-tingginya memeluk angkasa yang
dikuasai oleh raja angin
seakan engkau jadi sohib angin, saling mendekap,
berpelukan, bahkan bergumul
berpendar lalu saling mengitari
seolah tiada berjenuh
melakukannya semasa hayatmu
melulu
kini sayap-sayapmu telah patah
oleh raja angin yang durjana
engkau terjungkal
engkau terpental
engkau mengerang
meringis
bersama sahabat-sahabatmu seprofesi
sedunsanak, senasib
engkau mengajak melawan angin
raja angkasa yang kini telah otoriter
tiada pernah lagi mengusung demokrasi
tiada lagi menampung pendapatmu bersama rakyat yang lain
kiacuan demi kicauan hanya bagai suara nyamuk dan semut serta langau
oleh si raja udara
kuping nya seakan tertutup pelangkin
wahai burung nan nestapa,
memohon lah pada sang Khaliq agar si raja angkasa nan durjana
bin zalim
turun takhta
supaya engkau kembali bersayap
bergerombol menghibur bumi nan
telah sesak
yang
telah pengap oleh ketidakpastian
andai ada yang menjual, maukah engkau membeli sayap-sayap itu?
padang, maret 2011
Sajak: "Sepatu Tak Berkaos"
oleh Udho Hendra pada 04 Maret 2011 jam 5:02
SEPATU TAK BERKAOS
--- ode buat seorang pemimpin di sebuah kota
sepatumu tak lagi mengkilau
kaucoba menyemir dan menyemir, saban waktu
tiada berjenuh
untuk menata kotamu yang tercarut-marut oleh keberpuraa-puraan
yang kaubina seantero waktu
yang telah sumir kepemimpinanmu
: seakan kaututup sobekan demi sobekan yang telah paripurna menganga
menatap wajah duniamu
kota yang kaupimpin seakan tiada usai mempertontonkan kecompang-campingan
kebijakan menohok wargamu
yang seakan berlari tiada tahu di mana ia mesti berhenti kala gempa menghinggap kotamu
tersebab ulahmu, wahai penguasa yang otoriter!
sol-sol sepatumu pun sudah menipis
tiada lagi tempat berpijak
pada kebjakan yang tak beraturan
kini mengapa engkau tiada pernah menginap di kotamu
bersama wargamu
: mengapa engkau menyuruh wakilmu menghadapi
amukan, demonstrasi, umpatan, makian, keluhan?
kotamu kaubiar mati suri
kaubiar sepatu wargamu sobek, sol menganga,
sedang ia senantiasa mengurai kehidupannya penuh nestapa
dan terlunta-lunta
melangkah tidak pernah menggiring kaos di antara
sepatu-sepatu yang mereka kenakan
sementara sepatumu saban masa berganti dan mengkilat
sekliat keningmu yang sempit
kau pemimpin kemunafikan
pulanglah
belikan sepatu baru buat wargamu yang kautinggal
semirlah dengan tanganmu
kilaukan mereka
dengan kebijakan orisinal dan rasional
maukah engkau?
padang, maret 2011
Sajak: "PUING-PUING NESTAPA"
oleh Udho Hendra pada 17 Februari 2011 jam 17:27
PUING-PUING NESTAPA
sontak aku dipeluk debu
nan tiada berbosan mengcekeram tubuh nan baru saja terpental
oleh bertrilyun puing-puing kenestapaan
: melulu mendekap
hingga tiada henti membanting jiwa di sudut hati nan sunsang
...
debu-debu purba, engkaukah bernama perih nan masih
tiada lelah memeluk
yang masih betah mendekap
hingga terberangus kepalsuan?
padang, februari 2011
Sajak : "Berkatalah pada Angin"
oleh Udho Hendra pada 26 Januari 2011 jam 17:12
I
marilah
berujar walau tiada berkata,
berkatalah meski bungkam
: bungkam yang tiada bersuara
ayolah
berucap, walau tiada bergeming
berkatalah meski diam
: diam yang tiada berteriak
silakanlah
berujar ayolah, mari berucap
suara yang tak terucap
teriak yang bak angin
mendesau
berkilau
walau laksana puing di pertokoan pasca gempa bumi
II
mengapa bungkam namun hati geram
kenapa diam tetapi jiwa mencekam
siapa tak bersuara
suara tak siapa
mendesau karena tak mau bungkamkah?
berkilau tersebab tak kuasa mengeluarkan suarakah?
atau suara tak mengeluarkan angin yang tiada berdesau
yang tak pernah bergeming
mengapa
kenapa
siapa
sudahlah!
III
tidak pernah suara haruskah berteriak
pada segumpal rasa sesak yang bak semak
berisik
pada intrisik
o, angin engkau tak pernah membaca pikiran
yang senantiasa terusik oleh sejumput rumput
kumuh sarat tuma dan gulma
IV
ya, sudah!
padang, Januari 2011
di ruangan yang berisik oleh musik yang asyik.
(SEBUAH SAJAK) Karya Hendra Idris
oleh Udho Hendra pada 25 April 2010 jam 12:34
HALUSINASI SENJA TUAN AMBISIUS
engkaulah lelaki semilyar ambisi, napsi-napsi; akan engkau kuasai
dunia nan bukan quotamu, tuan ambisius...
kaurambah sedoyanmu, dengan kumis-kumis palsumu
"negeri ini milikku selamanya... aku mau jadi menteri negeri mimpi" teriakmu
pada para demonstran yang melemparmu dengan telur busuk
dan kelapa tua, lantas engkau kibas dengan tangan imitasimu
engkau lelaki setrilyun program khayalan
ujarmu: : "saya mau bikin...mau buat... mau ..mau..."
: mau yang besar, tapi tak pernah ada
seakan kaubuai-buai rakyat yang telah menguap, telah terkantuk-kantuk
kaurayu mereka, agar mereka teranggguk-angguk
tuan ambisius, bahwa hari belumlah senja
kala engkau memaksa hari segera malam
engkau akan paksa mereka supaya mempercepat malam, lalu kau
paksa mereka tidur, dengan mata melek..
tuan ambisius, engkau tak memikir betapa pekerjaan rumahmu
belum engkau jalankan, karena engkaulah tuan ambisius
telah terbiasa oleh protokoler.
: dulu gurumu engkau bujuk via bapakmu yang jenderal
supaya tugas sekolahmu beres
tuan ambisius, tidurlah, di lapik, di tikar keropos, biar
engkau tau arti hidup
karena malam hanya milik orang yang pasti...
tuan ambisius, makan lah batu yg lembek di piring yg retak
padang, 2010
oleh Udho Hendra pada 08 Maret 2011 jam 6:30
kepak-kepakmu serta-merta patah
tiba-tiba bergugur menerpa ilalang yang usang dan pirang
kauhendak terbang, selalu berikhtiar meski terhentak
kauingin menggapai setinggi-tingginya memeluk angkasa yang
dikuasai oleh raja angin
seakan engkau jadi sohib angin, saling mendekap,
berpelukan, bahkan bergumul
berpendar lalu saling mengitari
seolah tiada berjenuh
melakukannya semasa hayatmu
melulu
kini sayap-sayapmu telah patah
oleh raja angin yang durjana
engkau terjungkal
engkau terpental
engkau mengerang
meringis
bersama sahabat-sahabatmu seprofesi
sedunsanak, senasib
engkau mengajak melawan angin
raja angkasa yang kini telah otoriter
tiada pernah lagi mengusung demokrasi
tiada lagi menampung pendapatmu bersama rakyat yang lain
kiacuan demi kicauan hanya bagai suara nyamuk dan semut serta langau
oleh si raja udara
kuping nya seakan tertutup pelangkin
wahai burung nan nestapa,
memohon lah pada sang Khaliq agar si raja angkasa nan durjana
bin zalim
turun takhta
supaya engkau kembali bersayap
bergerombol menghibur bumi nan
telah sesak
yang
telah pengap oleh ketidakpastian
andai ada yang menjual, maukah engkau membeli sayap-sayap itu?
padang, maret 2011
Sajak: "Sepatu Tak Berkaos"
oleh Udho Hendra pada 04 Maret 2011 jam 5:02
SEPATU TAK BERKAOS
--- ode buat seorang pemimpin di sebuah kota
sepatumu tak lagi mengkilau
kaucoba menyemir dan menyemir, saban waktu
tiada berjenuh
untuk menata kotamu yang tercarut-marut oleh keberpuraa-puraan
yang kaubina seantero waktu
yang telah sumir kepemimpinanmu
: seakan kaututup sobekan demi sobekan yang telah paripurna menganga
menatap wajah duniamu
kota yang kaupimpin seakan tiada usai mempertontonkan kecompang-campingan
kebijakan menohok wargamu
yang seakan berlari tiada tahu di mana ia mesti berhenti kala gempa menghinggap kotamu
tersebab ulahmu, wahai penguasa yang otoriter!
sol-sol sepatumu pun sudah menipis
tiada lagi tempat berpijak
pada kebjakan yang tak beraturan
kini mengapa engkau tiada pernah menginap di kotamu
bersama wargamu
: mengapa engkau menyuruh wakilmu menghadapi
amukan, demonstrasi, umpatan, makian, keluhan?
kotamu kaubiar mati suri
kaubiar sepatu wargamu sobek, sol menganga,
sedang ia senantiasa mengurai kehidupannya penuh nestapa
dan terlunta-lunta
melangkah tidak pernah menggiring kaos di antara
sepatu-sepatu yang mereka kenakan
sementara sepatumu saban masa berganti dan mengkilat
sekliat keningmu yang sempit
kau pemimpin kemunafikan
pulanglah
belikan sepatu baru buat wargamu yang kautinggal
semirlah dengan tanganmu
kilaukan mereka
dengan kebijakan orisinal dan rasional
maukah engkau?
padang, maret 2011
Sajak: "PUING-PUING NESTAPA"
oleh Udho Hendra pada 17 Februari 2011 jam 17:27
PUING-PUING NESTAPA
sontak aku dipeluk debu
nan tiada berbosan mengcekeram tubuh nan baru saja terpental
oleh bertrilyun puing-puing kenestapaan
: melulu mendekap
hingga tiada henti membanting jiwa di sudut hati nan sunsang
...
debu-debu purba, engkaukah bernama perih nan masih
tiada lelah memeluk
yang masih betah mendekap
hingga terberangus kepalsuan?
padang, februari 2011
Sajak : "Berkatalah pada Angin"
oleh Udho Hendra pada 26 Januari 2011 jam 17:12
I
marilah
berujar walau tiada berkata,
berkatalah meski bungkam
: bungkam yang tiada bersuara
ayolah
berucap, walau tiada bergeming
berkatalah meski diam
: diam yang tiada berteriak
silakanlah
berujar ayolah, mari berucap
suara yang tak terucap
teriak yang bak angin
mendesau
berkilau
walau laksana puing di pertokoan pasca gempa bumi
II
mengapa bungkam namun hati geram
kenapa diam tetapi jiwa mencekam
siapa tak bersuara
suara tak siapa
mendesau karena tak mau bungkamkah?
berkilau tersebab tak kuasa mengeluarkan suarakah?
atau suara tak mengeluarkan angin yang tiada berdesau
yang tak pernah bergeming
mengapa
kenapa
siapa
sudahlah!
III
tidak pernah suara haruskah berteriak
pada segumpal rasa sesak yang bak semak
berisik
pada intrisik
o, angin engkau tak pernah membaca pikiran
yang senantiasa terusik oleh sejumput rumput
kumuh sarat tuma dan gulma
IV
ya, sudah!
padang, Januari 2011
di ruangan yang berisik oleh musik yang asyik.
(SEBUAH SAJAK) Karya Hendra Idris
oleh Udho Hendra pada 25 April 2010 jam 12:34
HALUSINASI SENJA TUAN AMBISIUS
engkaulah lelaki semilyar ambisi, napsi-napsi; akan engkau kuasai
dunia nan bukan quotamu, tuan ambisius...
kaurambah sedoyanmu, dengan kumis-kumis palsumu
"negeri ini milikku selamanya... aku mau jadi menteri negeri mimpi" teriakmu
pada para demonstran yang melemparmu dengan telur busuk
dan kelapa tua, lantas engkau kibas dengan tangan imitasimu
engkau lelaki setrilyun program khayalan
ujarmu: : "saya mau bikin...mau buat... mau ..mau..."
: mau yang besar, tapi tak pernah ada
seakan kaubuai-buai rakyat yang telah menguap, telah terkantuk-kantuk
kaurayu mereka, agar mereka teranggguk-angguk
tuan ambisius, bahwa hari belumlah senja
kala engkau memaksa hari segera malam
engkau akan paksa mereka supaya mempercepat malam, lalu kau
paksa mereka tidur, dengan mata melek..
tuan ambisius, engkau tak memikir betapa pekerjaan rumahmu
belum engkau jalankan, karena engkaulah tuan ambisius
telah terbiasa oleh protokoler.
: dulu gurumu engkau bujuk via bapakmu yang jenderal
supaya tugas sekolahmu beres
tuan ambisius, tidurlah, di lapik, di tikar keropos, biar
engkau tau arti hidup
karena malam hanya milik orang yang pasti...
tuan ambisius, makan lah batu yg lembek di piring yg retak
padang, 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar